Jumat, 16 Desember 2011

Andai Saya Menjadi Anggota DPD RI

Seandainya adalah kata yang begitu indah digambarkan di sketsa angan seseorang, karena kata itu memberi ruang di otak kita untuk membayangkan apa saja yang kita inginkan. Kata itu “ajaib” membuat seseorang menjadi termotivasi, jatuh, ataupun tidak bangkit dari angan-angan, tergantung bagaimana individu memproyeksikan “pengandaiannya” itu. Biarlah angan saya berandai-andai pada satu sudut ketika saya menjadi anggota DPD RI. “wakil” itulah yang perlu digaris bawahi dari singkatan jabatan yang terdengar begitu kemilau ketika dipandang oleh orang yang berambisi tentang kekuasaan, berat dipandang oleh orang yang mudah putus asa, dan dipandang amanah oleh orang yang berjiwa kepemimpinan. Kenapa amanah Karena orang yang selalu memegang amanah, ia mempunyai ambisi tetapi tidak hanya sebatas kekuasaan, arahannya lebih kepada kemajuan bersama. Itulah gambaran awal andai saya menjadi Anggota DPD RI. Bagi saya, penting untuk mengetahui visi dan misi, hak dan kewajiban, serta tugas dan wewenang, tetapi menjalankannya membutuhkan seseorang yang amanah. Apalagi menjadi wakil di suatu daerah, tidak menutup kemungkinan akan tergiur dengan harta, ataupun tahta. Bukan berarti saya tidak membutuhkan harta dan tahta, hanya saja keduanya itu bukanlah orientasi utamanya. Orientasi utamanya adalah rakyat.

“…Wakil rakyat harusnya merakyat…”, potongan syair lagu ini begitu menggelitik di memori saya. Seorang wakil rakyat memang sudah ‘seharusnya’ merakyat bukan ‘sepantasnya’ lagi. Kenapa seharusnya Karena sebagai seorang wakil rakyat sangatlah tidak wajar ketika baru sibuk mencari tahu apa saja yang berkenaan dengan DPD RI setelah duduk di salah satu kursi kepemimpinannya. Menilik kasus dari beberapa orang yang mangkir dari tugasnya sebagai dewan perwakilan, saya rasa mereka masihlah menggunakan kata ‘sepantasnya’, sehingga itu masih sebatas keinginan indah yang belum direalisasikan.

Untuk merealisasikan tugas saya sebagai DPD RI dengan cara merengkuh rakyat bersama saya. Karena tidak mungkin sebagai dewan perwakilan daerah, saya justru tidak mengenal daerah dan rakyat yang ada di dalamnya. Dengan berbagai fasilitas yang saya miliki setelah menjadi DPD RI, saya tidak mau terlena dengan semua fasilitas yang ada. Saya juga tidak mau membuat jarak dengan mereka karena keeksklusifan yang saya ciptakan, karena keeksklusifan justru akan menjadi tembok penghalang untuk mengetahui kenyataan yang ada di lapangan. Memanglah untuk menjadi seorang pemimpin harus menyeimbangkan antara sifat kepemimpinan “reptil” dan “mamalia” agar bisa menjadi pemimpin yang berjiwa besar dan disegani. That’s Right, di segani, beda dengan di takuti. Jangan jadi pemimpin yang suka bersungut-sungut karena bisa membuat rakyatnya juga ikut bersungut-sungut dan bisa jadi itu bukan dunia manusia, tetapi dunianya belalang karena banyaknya sungut dimana-mana.

“Waktu itu seperti pedang, jika kau tidak bisa menggunakannya, maka ia akan menebasmu”, seperti halnya menjadi anggota DPD RI, waktu yang mungkin tidak lama itu, gunakanlah sebaik-baik untuk kemaslahatan rakyat, agar tidak terjadi sesal, kekecewaan, tanggung jawab yang tak terselesaikan rapi dan mencoreng muka sendiri.

Semangat berkarya untuk para pemuda dan pemudi Indonesia, engkaulah generasi penerus bangsa, di tanganmu ada masa depan. Maka ukirlah dengan kesungguhan, pegang dengan keteguhan, dan lakukan dengan amanah

6 comments:

Ewa Kartins mengatakan...

Nyengir sinis deh gara2 wakil rakyat yang merakyat pas mau pemilihan.

Uswah Rindu Ramadhan mengatakan...

^_^

Anonim mengatakan...

emm bagus isinya..memang seorang pemimpin harusnya memahami yang dipimpin sehinngga jadi wakil rakyat yo harusnya merepresentasikan rakyatnya

Rinda Asy Asyifa mengatakan...

Andai saya menjadi anggota DPR RI?? Nampaknya saya tidak akan berandai-andai, karena amanah mereka sungguh dahsyat. Untuk memimpin diri sendiri saja saya masih harus banyak belajar, apalagi untuk menjabat di lapisan atas... Saya tidak mau hanya sekedar main-main dengan tujuan yang penting kerja dan yang penting mendapat gaji yang besar.. Sungguh, amanah itu sangat besar, bukan untuk main-main dan bahkan perandaian..

(^_^)
Semangat untuk negeri..!

Darah Pemuda mengatakan...

@Ewa kartins: ya begitulah...klu sudah terpilih lupa akan janji
@uswah:mksh sudah berkunjung yang mong
@anonim:mksh
@rinda:harus mengemban amanah sebaik mungkin...betul itu

Uswah Rindu Ramadhan mengatakan...

iya mung....