Selasa, 31 Desember 2013

"sekali lagi ku ungkapkan, kurang tanpa kalian..."


Ia menegaskan pada kami. Bagaimanapun menyenangkannya perjalanan selama 2 hari lalu, terasa sungguh berbeda dengan perjalanan-perjalanan sebelumnya. Maka hari ini aku berusaha menjadi dia.

Mendaki gunung?
Sejauh ini bagiku adalah sebuah tantangan, bukan sekedar efek pasca membaca novel 5 cm. Ada puncak di akhir perjalanan sana yang harus ku gapai. Puncak Mimpi -begitulah bahasa hiperbol yang sering kutanam dalam otak agar mensugesti tubuhku menjadi berani. 
Tapi dalam menjalani perjuangan menggapai puncak itu aku butuh bantuan, utamanya dari orang-orang yang sudah ahli. Aku butuh pembimbing. Ya, maka kupilih tim ini. Beberapa orang yang sudah ku kenal sebelumnya, beberapa perempuan -ya aku sudah kenal- dan beberapa laki-laki -plus ketua tim bertubuh gempal, kocak-. Iya. Kalian. 


Puncak pertama: Merbabu.
Pahit,
sesak napas ketika menuju pos pertama, nyawaku hampir di tenggorokan. Aku hampir berasa mati, tapi kalian juga. Kalian meneruskan perjalanan sambil terus mengoceh, ya aku tahu, agar kita lupa pada kesengsaraan malam yang membuat kita berebut oksigen dengan pepohonan. 
Mati,
otakku selalu berpikir tentang mati. Bisa saja aku sekarang sedang rebahan nyaman di tempat tidur yang empuk, menikmati segelas es jeruk dan makan nasi. Tapi nyatanya aku di sini. Bersama kalian makan mie rebus dan kopi panas yang hanya bertahan 5 menit lalu kemudian kembali dingin. Makan, minum... Kalian bilang: aku harus tetap hidup!
Puncak! Astaga! 
Satu persatu teman memilih kembali turun, enggan mencapai puncak: wajah merah, kaki remuk, tubuh lemah. Tapi seperti tangan-tangan malaikat yang menarikku untuk naik, aku bertahan hingga puncak!
Lalu menuruni kejayaan memang lebih mudah, merosot. Tapi di bawah aku kembali diterpa teori yang lagi-lagi hanya mudah dikatakan, sulit dilakukan. 3 orang tertinggal! 
Bisa saja pagi itu aku pulang duluan, membiarkan teman-teman dalam kepanikan. Tapi teori itu menggema di telinga: jangan egois... jangan egois...
ah, aku memilih menunggu, dan menjadi jalanku untuk lebih mengenal kalian.

Puncak kedua: Merapi.
Lagi, bersama kalian aku mendaki. Meski tim ini lebih membengkak, yang ikut lebih banyak.
Kali ini lebih mudah, bukan karena aku yang telah terbiasa, tapi karena ada kalian.
Kita mulai berbagi cerita tentang perbedaan Merbabu dan Merapi.Merbabu yang ramah, hijau, lembut, subur pepohonan, edelwis di sepanjang perjalanan, savana nan luas membentang. Puncaknya hijau ditemani awan-awan yang dapat disentuh dengan tangan, membawa butir-butir air, lembut. Merbabu laksana ibu, damai dalam pangkuannya.
Merapi yang anggun, kelabu, kokoh, menebar bebatuan, kerikil di sepanjang perjalanan, padang pasir dari lava dingin menghampar. Puncaknya hitam ditemani uap belerang yang aromanya menyengat, menutupi lereng-lereng terjal, kabut. Merapi laksana ayah, angkuh namun menenangkan.
Kita berdebat, pendapat siapa yang lebih benar. Tidak ada. Karena sejatinya kita saling melengkapi argumen, bukan saling menyalahkan.

Dan puncak ketiga.
Kalian tidak ikut.
Kalian sibuk.
Kalian merelakan aku pergi dengan tim lain.
Maka kunikmati perjalanan ini sendirian, lebih tepatnya: memulai pertemanan baru dengan tim yang baru.
Semuanya sama saja mengagumkan, sama seperti Merbabu dan Merapi. Yang berbeda hanya: aku sedang tidak bersama kalian.
"sekali lagi ku ungkapkan, kurang tanpa kalian..."


Rintik.
Aku sudah menemukan teman-teman yang baru. Aku mendaki gunung yang baru. Menggapai puncak yang baru.
Semuanya terasa menyenangkan.Satu-satunya kenyataan yang menyakitkan adalah:aku sekarang tidak bersama kalian.

Ingin sekali kusampaikan pada sang Pembagi Peran: bisakah kita kembali mendaki gunung yang sama, menuju puncak yang sama? Kita mendaki bersama seperti saat kita pertama kali ditemukan dalam satu tim. Kita kembali merasakan sesak berebut oksigen dengan pepohonan, kembali menyusuri lereng terjal di kegelapan malam, kembali meraih tangan-tangan teman yang mulai kepayahan, kembali memotivasi teman yang ingin berjatuhan, kembali egois dan akhirnya itsar, kembali berdebat tentang pendapat siapa yang paling benar, kembali bertangisan, berpelukan, kembali meneriakkan: AKU RINDU KALIAN! AKU MENCINTAI KALIAN!

Tidak,
perndakian-pendakian sebelumnya telah mengajarkan kita untuk tidak egois.
Maka kita relakan saja masing-masing mendaki gunung yang berlainan.
Sesuai misi kita masing-masing. 

Kita kini mendaki gunung yang berbeda.
Menggapai puncak-puncak yang berjauhan.Tetapi berjanjilah, saat kalian sampai di puncak nanti, kibarkan panji tim kita yang dulu agar aku bisa melihatnya dari puncak sini. Aku akan meneriakkan nama kalian satu-persatu, kalian pun begitu. Agar dunia melihat bahwa meski kita berada di puncak-puncak yang berbeda, kita masih satu: Tim yang dulu.

...

Ah, Adik Wida.komentar dan sms mu berhasil membuatku terharu. Terimakasih telah merindukan kami, tim yang dulu. Semoga liburan depan kita bisa mendaki gunung bersama lagi.
Bagaimana kalau Semeru? ^^

... 

"sekali lagi ku ungkapkan, kurang tanpa kalian..."


Writing By : Wulan Bila

2 comments:

berkah mengatakan...

kebersamaanya sangat erat sekali

Darah Pemuda mengatakan...

betul sekali